Kamis, 06 Desember 2012

Nasib ekonomi jangka panjang

Mengkristalnya sejumlah masalah ekonomi saat ini sepertinya jauh-jauh hari bisa dihindari. Terutama jika sejak awal semua pihak yang terlibat dalam penentuan kebijakan ekonomi dapat lebih berkomitmen memikirkan persoalan jangka panjang selain memikirkan rumitnya persoalan jangka pendek.
Krisis energi contohnya, sejumlah data menginformasikan kalau sebenarnya negara ini tidak layak mengalami krisis energi. Bagaimana tidak, kita memiliki sumber panas bumi cukup besar untuk bisa dijadikan energi pembangkit listrik, baik skala besar maupun kecil. Meskipun banyak, tampaknya dalam beberapa hal harus diakui bahwa pengembangan energi jangka panjang kita hampir bisa dikatakan gagal total, terbukti dari krisis energi yang kita alami belakangan ini.
Meskipun terlambat, tetapi tampaknya mulai ada upaya ke arah itu. Buktinya baru-baru ini dijanjikan akan optimalkan 39 wilayah kerja panas bumi (WKP) yang ada di Indonesia, meskipun itu baru sebatas diajukan ke pemerintah untuk disurvei.
Menurut Direktur Pembinaan Pengusahaan Panas Bumi dan Pengelolaan Air Tanah, diperkirakan dari 39 WKP tersebut mampu menghasilkan total potensi listrik yang bisa dikembangkan mencapai 4.039 MW. Indonesia menyimpan energi panas bumi tak kurang dari 20.000 MW energi atau setara 9 biliun barel minyak bumi untuk 30 tahun operasi.
Tetapi sayangnya pemanfaatannya tidak lebih 10 % dari potensi yang dimiliki. Padahal Indonesia diperkirakan sejumlah pakar memiliki 40% dari potensi panas bumi dunia, dimana masih sangat kecil yang dimanfaatkan untuk pembangkit listrik.
Kita juga memiliki banyak kawasan yang memiliki kandungan batubara. Sejumlah kalangan memperkirakan sebagian besar potensi batu bara di Indonesia belum tergarap optimal karena cadangan terukur batu bara selama ini hanya empat miliar ton, padahal potensi sumber daya batu bara mencapai 53 miliar ton. Potensi cadangan batu bara di Indonesia yang tersebar di berbagai daerah cukup besar, mencapai sekitar 58 miliar ton, sedangkan cadangan yang sudah pasti sekitar tujuh miliar ton.
Jika dilihat dari kebutuhan batu bara dalam negeri saat ini mungkin tidak lebih dari 60 juta ton, maka jika dibandingkan potensi yang kita miliki maka jumlah kebutuhan sebesar itu bukanlah apa-apa. Apalagi saat ini Indonesia menjadi pengekspor batu bara nomor satu di dunia, dengan jumlah pengiriman lebih 120 juta ton/tahun.
Untuk gas alam potensinya juga tidak kalah spektakuler. Beberapa tahun sebelum kita mengalami krisis energi yang cukup pelik seperti saat ini (2005), cadangan gas alam kita sudah dipublikasikan berbagai kalangan memang cukup besar. Pada tahun 2005 saja, Indonesia mempunyai cadangan gas alam  sebesar 186 TCF (Trillion Cubic Feet), dengan tingkat produksi mencapai 3 TCF per tahun. Itu belum termasuk cadangan gas alam yang berada dalam lapisan batu bara (coal bed methane-CBM).
Potensi CBM Indonesia, berdasarkan data Bank Dunia diperkirakan mencapai 453 TCF. Potensi CBM di dua pulau, yaitu Kalimantan (Berau 8,4 TCF; Kutai 80,4 TCF; Barito 101,6 TCF; Pasir/Asem 3 TCF; Tarakan 17,5 TCF) dan Sumatera (Sumatera Tengah 52,5 TCF; Sumatera Selatan 183 TCF; dan Bengkulu 3,6 TCF), sisanya terletak di Jatibarang 0,8 TCF dan Sulawesi 2 TCF

Analisis :

Jadi jangan menuding kalau kemajuan ekonomi kita terlalu cepat tumbuh sehingga pemenuhan energi tidak mencukupi atau penduduk kita terlalu banyak sehingga kita tidak siap menikmati cepatnya kemajuan ekonomi.
Yang terjadi adalah kegagalan perencanaan jangka panjang pengembangan energi, pangan nasional, pengelolaan aset-aset negara karena dilupakan berpuluh-puluh tahun, sehingga akhirnya persepsi dibuat seolah-olah perekonomian Indonesia menjadi tidak siap menikmati kemajuan ekonomi yang terbebas dari beragam krisis.
 

1 komentar:

  1. Micro Hair Trimmer - Classic-Arts.com
    The micro hair trimmer is a flexible titanium granite comb design with a unique design that is ideal titanium bmx frame for titanium vs platinum hair titanium scooter bars with both the black titanium ring eyebrows and head.

    BalasHapus